biarkan kopi saja yang tumpah rinduku jangan sebab rinduku hanya butuh pertemuan, sedang ku tau kamu hanya mampu memupuk rindu tanpa sedikitpun berniat memangkasnya. Ahh sudahlah biarlah rindu ini mengendap ihklas walau tak terbalas seperti ampas kopi yang tak pernah di teguk.
Rabu, 09 Agustus 2017
Jumat, 28 Juli 2017
cinta dan benci sewajarnya
"Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai." (HR. At-Tirmidzi)
sebagai seorang wanita jelas kita akan sangat senang sekali saat pasangan kita mencurahi kita dengan sebanyak mungkin kasih sayang, menjadikan kita ratu tertinggi di hatinya, dan memanjakan kita dengan cintanya yang teramat dalam. Namun berhati-hati dan tetap waspada adalah hal yang utama. Karena, cinta itu bagi kita adalah layaknya air bagi tanaman. Jika kekurangan air maka tanaman itu akan layu, meranggas, kemudian mati. Dan jika berlebihan, air itu akan membusukkan akar-akarnya dan mencerabutnya juga dengan paksa dari kehidupannya. maka harusnya kita sadar bahwa sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. jika pasangan begitu menyayangi kita, nasehatilah ia agar menyayangi sewajarnya. Sebagaimana takaran air yang pas bagi tanaman. Yang akan mampu menumbuhkannya secara perlahan, memekarkan kuncup-kuncupnya hingga menjadi bunga, dan meranumkan buahnya hingga rasa manis kemanfaatan bisa dirasakan.
Begitulah dahsyatnya energi dari cinta dan benci yang tidak dikelola dengan menggunakanprinsip keseimbangan/kewajaran. Ia akan mampu membinasakan pemiliknya. Seperti kisah yang sudah sangat terkenal semisal Laila Majnun, Romeo Juliet, dan seabreg kisah roman picisan yang akhirnya ditiru oleh manusia yang mengaku dirinya para pecinta yang karena cintanya yang teramat dalam (katanya..) kepada kekasihnya maka berlakulah bagi mereka kaidah-kaidah: jika kau mati ku juga mati, atau jika kau putuskan aku maka ku mati, atau jika kau sakiti hatiku kau yang kupastikan mati. Naudzubillah..
Dan ternyata masalah ketidakwajaran dalam mencinta dan membenci ini tidak hanya menjadi problem di kalangan masyarakat awam. Di dunia para aktivis yang sudah berkeluarga pun tak kalah banyaknya masalah yang ditimbulkan oleh hal ini dengan segala turunannya. Kebanyakan, bukan karena berlebihan dalam membenci tapi dalam hal mencintai.
Berapa banyak pasangan yang semula sangat memuja pasangannya tapi kemudian karena ada satu dua hal kecil yang tidak ia harapkan dilakukan pasangannya maka kemudian yang terjadi adalah pertengkaran tanpa ujung. Dengan sekejap, cinta yang menggunung tiba-tiba berganti dengan benci yang pekat bergulung-bergulung. Yang akhirnya membawa kepada perceraian dan permusuhan seumur hidup.
Maka bijak sekali Umar bin Khattab ra yang menasehati putranya: "Hai Aslam, jangan jadikan cintamu sebagai beban dan jangan sampai bencimu membuat binasa."
Aku bertanya: "Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
Beliau mengatakan: "Jika engkau mencintai, janganlah berlebihan seperti seorang anak kecil mencintai sesuatu. Dan, jika engkau membenci, janganlah berlebihan hingga engkau suka mencelakai sahabatmu dan membinasakannya." (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)
Atau juga yang telah diungkapkan melaui bait-bait indah para penyair.
Jika engkau membenci, bencilah dengan kebencian sewajarnya
Karena sesungguhnya engkau tidak tahu, suatu ketika engkau akan kembali
Jika engkau mencintai, cintailah dengan cinta sewajarnya
sebab engkau tidak tahu, suatu ketika engkau memutus cinta itu
(Hadbah bin Kasyram)
Cintailah kekasihmu dengan cinta sewajarnya
Niscaya tidak akan membebanimu bila kamu memutus cinta itu
Dan bencilah musuhmu dengan benci sewajarnya
Karena bila engkau berusaha untuk mencintainya maka engkau akan bersikap bijak padanya
(An-Namar bin Taulab)
Namun sebagai seorang wanita jelas akan sangat senang sekali saat pasangan kita mencurahi kita dengan sebanyak mungkin kasih sayang, menjadikan kita ratu tertinggi di hatinya, dan memanjakan kita dengan cintanya yang teramat dalam. Tapi berhati-hati dan tetap waspada adalah hal yang utama. Karena, cinta itu bagi kita adalah layaknya air bagi tanaman. Jika kekurangan air maka tanaman itu akan layu, meranggas, kemudian mati. Dan jika berlebihan, air itu akan membusukkan akar-akarnya dan mencerabutnya juga dengan paksa dari kehidupannya. Maka mintalah dia, agar mencintai secara wajar. Sebagaimana takaran air yang pas bagi tanaman. Yang akan mampu menumbuhkannya secara perlahan, memekarkan kuncup-kuncupnya hingga menjadi bunga, dan meranumkan buahnya hingga rasa manis kemanfaatan bisa dirasakan.
Lalu apa takaran kewajaran itu? Semoga tak lebih dan tak
kurang: ILMU DAN IMAN.
Allahu a’lam..
Kamis, 13 Juli 2017
perintah suami yang tidak boleh ditaati
“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima
waktunya, berpuasa di bulan Ramadhannya, menjaga kemaluannya, dan menaati
suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga dari pintu mana saja
yang engkau suka" HR. Ahmad, no. 1664. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih
al-Jami’, no. 660
Setiap
pasangan suami isteri pasti mendambakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah,
dan rahmah. Rumah tangga akan harmonis dan bahagia jika masing-masing dari
keduanya merasakan ketentraman, cinta, dan kasih sayang. Namun semuanya itu
tidak akan pernah terwujud kecuali jika setiap pasangan mengerti dan memahami
tugas masing-masing. Sebagaimana keduanya memiliki hak, keduanya juga mempunyai
kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.
Kewajiban
utama seorang suami adalah menjadi kepala rumah tangga, pemimpin dalam
komunitas keluarga, yang bertanggung jawab mengayomi, melindungi, dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga. Sedangkan kewajiban utama seorang istri
adalah menaati dan melayani suami.
Dalam
konteks kewajiban taat seorang istri kepada suaminya, Rasulullah
shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Sekiranya
aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya
akan kuperintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.” HR. Ahmad, no. 18913; at-Tirmidzi,
no. 1159; dll. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits
ash-Shahihah, no. 3366.
Melalui
hadits mulia ini, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam – ingin menyampaikan
pesan kepada para istri, bahwa suami memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Suami layaknya nahkoda yang mengatur jalannya rumah tangga kala mengarungi
lautan kehidupan. Maka semestinya ia ditaati, bukan didurhakai, seharusnya ia
diikuti, bukan dikhianati. Dan seorang istri shalihah yang beriman kepada Allah
dan RasulNya, tidak akan memandang kewajiban taat ini sebagai bentuk
diskriminasi terhadap wanita, kekerasan dalam rumah tangga, atau pelanggaran
terhadap hak asasi manusia, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan
para pengekor mereka. Akan tetapi, ia akan memandang bahwa kewajiban taat ini
merupakan bentuk ketaatan kepada Allah yang telah menciptakanNya, menciptakan
suaminya, dan menciptakan adanya hubungan suci nan mulia di antara keduanya. Ia
akan mengatakan, “Kami dengar, dan kami taat”, kemudian ia akan menunaikannya
dengan penuh ketulusan dari lubuk hati dan keikhlasan karena mengharap ridha
Ilahi.
Namun yang
perlu dipahami di sini adalah, sejauh manakah kewajiban taat seorang istri
kepada suaminya? Apakah ia merupakan ketaatan mutlak tanpa batas? Ketaatan yang
menjadikan istri layaknya budak kepada tuannya? Ataukah ada suatu kondisi di
mana ketaatan itu boleh dilanggar, atau bahkan wajib didurhakai?
Dalam hal
ini, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – telah menggariskan satu
kaidah agung yang harus dipahami dengan penuh keimanan oleh masing-masing
pasangan. Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Tidak
ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla.”
HR. Ahmad, no. 1098, dan
lainnya. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 7520.
Beliau
Shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf.”HR. al-Bukhari, no. 7145
dan Muslim, no. 1840.
Ya,
ketaatan istri kepada suami bukan hanya karena suami telah menafkahinya,
melindunginya, dan memenuhi segala kebutuannya. Akan tetapi lebih dari itu,
ketaatan istri kepada suami adalah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah
ta’ala. Karena Allah telah memerintahkan istri untuk taat kepada suami. Oleh karena
itu, ketaatan seorang istri kepada suaminya harus disesuaikan dengan ketaatan
kepada Allah ta’ala. Sebab, jika kewajiban taat dan patuh kepada suami
sangatlah besar, maka kewajiban taat dan patuh kepada Allah, tentu lebih besar
lagi, karena Allah-lah yang telah menciptakan ia dan suaminya, dan mengikatkan
tali cinta suci di antara keduanya.
Artinya,
kepatuhan istri kepada suami dibatasi pada hal-hal yang tidak mengandung
kemaksiatan kepada Allah ta’ala. Jika sang suami memerintahkannya melakukan
suatu kemaksiatan –sekecil apa pun kemaksiatan itu-, maka sebesar apa pun
kecintaannya kepada sang suami, ia tidak boleh mematuhinya.
Di antara
contoh perintah suami yang tidak boleh ditaati oleh istri:
1. Suami
menyuruh istri berbuat syirik atau kufur
Jika suami
memerintahkan istrinya untuk melakukan atau membantu suatu perbuatan syirik;
menyuruhnya pergi ke dukun, mencari penglaris untuk dagangan, mengalungkan
jimat pada anaknya, atau apa pun bentuk kesyirikan itu, maka istri tidak boleh
patuh dan wajib membantah perintah suaminya, meski sang suami tidak senang,
tidak ridha, murka, atau bahkan hendak menceraikannya. Bahkan dalam suatu
kondisi, apabila sang suami tidak bisa dinasihati, tidak mau bertaubat dari
kesyirikannya, sang istri boleh menggugat cerai dari suaminya yang musyrik.
Karena keberadaannya di sisi suami, akan mengancam akidahnya. Suaminya yang
musyrik itu akan dapat menjerumuskannya ke dalam kemurkaan Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda:
“Barangsiapa
mencari keridhaan Allah dengan kemurkaan manusia, niscaya Allah akan
mencukupinya dari tuntutan manusia, dan barangsiapa mencari keridhaan manusia
dengan murka Allah, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada manusia.”HR.
at-Tirmidzi, no. 2414. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’,
no. 60972.
2. Suami melarang berhijab
Mengenakan jilbab (busana
syar’i wanita Muslimah) hukumnya wajib. Jika suami memerintahkan istri untuk
melepas kerudungnya atau membuka aurat lainnya, dengan alasan untuk pekerjaan
atau apa pun alasannya, maka istri tidak boleh mematuhinya. Jika istri mematuhinya,
berarti ia telah durhaka kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka
menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59).
3. Suami
minta dilayani di ranjang, sedangkan istri dalam keadaan haidh, atau suami
minta jimak melaui dubur
Istri
tidak diperkenankan menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim (tanpa
alasan syar’i) "Jika seorang suami mengajak
istrinya ke tempat tidurnya, lalu istrinya menolaknya sehingga dia melalui
malam itu dalam keadaan marah, maka malaikat melaknat istrinya itu hingga
shubuh" HR. Bukhari no.3237 dan Muslim no. 1436
Namun demi
suatu hikmah dan kemaslahatan, Islam telah mengatur rambu-rambu bagi suami
istri dalam berhubungan intim, dan jika rambu-rambu itu dilanggar, maka mereka
akan terjatuh ke dalam dosa. Di antara rambu-rambu itu adalah tidak boleh
berhubungan intim ketika istri sedang haidh, oleh karena itu istri harus
menolak ajakan suami untuk berhubungan intim jika ia sedang haidh. Namun dalam
kondisi seperti ini keduanya boleh melakukan apa saja selain jimak. Demikian
juga apabila suami mengajak istri untuk berhubungan intim melalui dubur, maka
ia juga harus menolaknya. Jika tidak, maka keduanya justru akan mendapatkan
murka dari Allah ta’ala.
"Dan mereka
bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran (najis).”
Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan
janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci,
maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang
yang menyucikan diri.” (Qs. Al-Baqarah: 222-223)
Dan
demikianlah seterusnya,
" segala bentuk
perintah suami yang mengandung kemaksiatan serta kedurhakaan kepada Allah, maka
istri tidak boleh mematuhinya. Namun yang perlu diperhatikan dan dipahami oleh
istri adalah, bahwa ketika suami memerintahkannya melakukan satu kemaksiatan,
bukan berarti itu menggugurkan ketaatan istri secara keseluruhan, akan tetapi
kewajiban tidak taatnya itu hanya berkenaan dengan perintah yang mengandung
kemaksiatan tersebut. Istri juga tidak diperkenankan untuk serta merta marah,
benci, dan menghardik suami yang melakukan atau memerintahkan kemaksiatan. Akan
tetapi harus tetap ada usaha untuk menasihati dan memberikan pengertian kepada
suami. Dan istri yang shalihah adalah istri yang bisa bijak tatkala menghadapi
kesalahan suaminya, bisa memberinya nasihat tanpa terkesan menggurui, bisa
mengingatkannya tanpa membuatnya tersinggung".
Semoga
Allah ta’ala memberikan taufikNya kepada kita semua, amin.
Malaikat tanpa sayap
Bapak ibu yang mengajarkan
bagaimana memberi cinta dengan tulus tanpa pamri tanpa lelah tanpa mengharap
balasan apapun. Bahkan balasan terburuk kita pun di anggap kesalahannya.
Bapak ibu yang menyemangati
disaat kita terjatuh, mereka yang mengusap air mata kita saat menangis,
menguatkan, meneduhkan hati kita. Bapak ibu juga lah yang tetap akan bangga
memiliki anak seperti kita walaupun kita pernah bahkan sering mengecewakannya,
pernah membuat hati mereka terluka. Satu hal lagi, mereka sangat bangga ketika
kita yang dulu begitu nakal kini berubah menjaadi seorang anak yang berguna
bagi orang lain meski orang lain merendahkamn kita. Mereka mengajarkan cinta
yang menembus dimensi apapun, mereka tetap putih meski kita beri warna hitam.
mereka akan tetap putih meski kita tak beri warna putih ( mereka tetap akan
baik meski kita berlaku buruk, mereka akan lebih baik walau kita berbuat baik.
Aku ingin sekuat bapak juga selembut ibu.
terimakasih untuk kalian berdua malaikat tanpa sayapku
Ana uhibbuka fillah hatta fil jannah abadan abada
Ana uhibbuka fillah hatta fil jannah abadan abada
'' aku mencintaimu
karena Allah hingga ke syurga selama-lamanya ''
(insyaAllah)
Bukan di matamu ku
temukan cinta, sebab kita memang belum berjumpa
namun dalam doa mu ku
temukan rasa, perasaan cinta yang tak biasa
bukan di wajahmu ku
merindu, sebab memang kita belum bertemu
namun dalam setiamu
ku sabar menunggu, menanti Allah menyatukan kita
bukan di senyummu ku
terpikat, sebab kita memang belum terikat
namun dalam taatmu ku
bertekad, menjaga cinta hingga tiba akad
Untuk mu Semogaku
UNTUKMU SEMOGA KU
Dihadapanmu aku malu-malu tapi dihadapan-Nya aku menangis
memintamu , tak hentinya aku nenyelipkan namamu disela doa-doa ku agar kelak
hatimu akan luluh dan padaku lah cintamu terjatuh ..
Dan agar disuatu saat yang entah, aku dapat berada satu shaf dibelakangmu, duduk bersimpuh dan menjadi bagian dari semoga-semogamu lalu mengamininya
Dan agar disuatu saat yang entah, aku dapat berada satu shaf dibelakangmu, duduk bersimpuh dan menjadi bagian dari semoga-semogamu lalu mengamininya
Wanita pengecut yang hanya berani menikmati indahmu dari
kejauhan daripada mendekatimu lalu dijauhkan
Rabu, 12 Juli 2017
JALAN YANG KU PILIH
Mungkin pernah
aku rasakan masa-masa jenuh untuk terus dalam kesendirian ini, Kadang serasa
membutuhkan sandaran hati, tempat berbagi harapan, cinta, tangis dan bahagia
Kadang Serasa dunia ini terlalu
sepi tanpa ada yang menantiku pulang, tanpa panggilan sayang & tangis
bayi-bayi mungil calon penegak agama . Penantian yang terkadang aku lalui
dengan gerimis air mata serta rayuan pada Sang Segala Maha .
Memang
hingga kini yang kuminta belum juga tiba,
Namun aku tau dalam setiap jatuh bangun dan setiap suka duka ada rindu untuk segera bertemu .. Aku dan dia terpisah waktu, namun bersama berjuang memulung keping-keping semangat atas perjuangan memantaskan diri .. Aku & dia terpisah peristiwa, tapi kami saling mengingat bahwa di ujung sana ada yang sama2 berjuang, sama2 mendoakan agar hati tetap terjaga ..
Biarpun
jarak kita jauh, biar kehidupan kita terjadi sendiri-sendiri, biar cerita kita
sudah beda cerita, biar peran kita beda kisah, Namun dalam diam tetap merintih
harapan biar kehidupan membawa kita ke takdir yang sama
Duhai Yang Maha
Berkuasa,
Pada setiap perasaan yang mengacak-acak ketegaran hati yang telah aku susun
sekeras karang,
Selipkan seberapa saja ketenangan di utara selatan barat timurku ini,
setidaknya untuk mengusir kegelisahanku atas penantian panjang ini ..
Doa pelan dari desir hatiku ini adalah cinta dalam setiap harap dalam
sujud-sujudku , Yang kuceritakan segalanya pada-MU Sang Pembolak Balik Hati , Yang
kutitipkan hati dan harapnya hanya pada-MU ..
Yang tak ada Doa lainnya kecuali kuminta kasih sayang-MU tercurah untuknya agar
dia senantiasa bahagia ..
Meski aku tak tau namanya, tak tau wujudnya, tak tau bagaimana suaranya, Tak
tau warna rambutnya, tak tau seberapa jarak antara kita . Tapi mungkin
beginilah caraku mencintainya. 

Langganan:
Postingan (Atom)
Bukan ustadzah
“Eh ummi, eh ustadzah, eh mamah Dedeh” Kalian juga pasti pernah di panggil dengan sebutan itu, iya k an!! Yah mungkin karena denga...
-
Ana uhibbuka fillah hatta fil jannah abadan abada '' aku mencintaimu karena Allah hingga ke syurga selama-lamanya '' ...
-
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, saat-saat seperti ini akhirnya datang juga. Ketika diri sendiri merasa terlalu sepi untuk lari dari s...
-
Mungkin pernah aku rasakan masa-masa jenuh untuk terus dalam kesendirian ini, Kadang serasa membutuhkan sandaran hati, tempat berbagi ...




